Friday, May 3, 2013

Hati Hati Minum Kopi Sambil Makan Gorengan


Sarapan dengan gorengan sambil minum kopi memang sangat nikamat sekali namun dibalik kenikmatan yang ditimbulkan ternyata makan gorengan sambil minum kopi sangat membahayakan kesehatan kamu.

Sebuah penelitian menyebutkan dampak negatif yang ditimbulkan makan gorengan sambil minum kopi dampak negatif yang ditimbulkan dari makan gorengan sambil minum kopi adalah bisa membuat tingginya kadar gula darah dalam tubuh yang bisa memicu terserang diabetes.

Dengan memakan gorengan saja tubuh kita bisa membuat tingginya gula darah dalam tubuh nah ditambah dengan minum kopi maka gula darah tadi akan bertambah menjadi dua kali lipat.

Peneliti menyatakan bahwa gorengan mengandung lemak jenuh yang membuat tubuh kesulitan membersihkan gula dari darah. Meski telah lewat beberapa jam setelah makan gorengan, minum kopi dapat menambah tingkat kesulitan pembersihan gula.

"Hal ini menunjukkan bahwa efek makanan tinggi lemak dapat berlangsung hingga berjam-jam," kata Marie-Soleil Beaudoin dan Terry Graham, peneliti dari University of Guelph, seperti dilansir theglobeandmail, Sabtu (3/11/2012).

Gula yang berada didalamn darah dalam jangka waktu yang sangat lama bisa membuat beberapa masalah kesehatan seperti risiko diabetes, kerusakan arteri, dan penyakit jantung. 

Lihatlah Kesehatan Anda dari Telapak Tangan


Tahukah Anda, bahwa tubuh seringkali memberitahukan kondisi kesehatan badan kita. Ada beberapa anggota tubuh yang biasa memberikan sinyal terkait kesehatan kita. Di antaranya, mata, lidah, urin, dan juga kulit. Itu yang biasa kita tahu. Tapi sebenarnya masih ada lagi, laman Times of India menulis telapak tangan pun bisa menjadi sinyal yang bagus untuk mengetahui kondisi kesehatan kita. 

Berikut ada beberapa petunjuk untuk mengenali kondisi telapak tangan Anda:

1. Telapak tangan berkeringat
Telapak tangan basah berkeringat biasanya terjadi saat Anda merasa gugup atau cemas. Tapi, awas, jika kondisi ini terus-menerus terjadi tanpa sebab yang jelas dan sulit terkontrol bisa jadi Anda mengalami gangguan kelenjar tiroid atau jantung. 

Adanya keringat yang tak terkontrol di bagian telapak tangan bisa jadi akibat kelenjar tiroid yang terlalu aktif sehingga menyebabkan peningkatan metabolisme tubuh. Akhirnya tubuh membakar kalori berlebihan yang memicu peningkatan suhu tubuh dan keringat pun tak terkontrol di bagian badan tertentu. 

2. Telapak tangan memerah
Kondisi ini bisa menjadi pertanda adanya gangguan hati akibat pelebaran pembuluh darah sebagai respon atas ketidakseimbangan hormon yang dipicu kerusakan hati. Perubahan warna muncul di sekitar pergelangan tangan dari pangkal jempol dan kelingking. 

Selain gangguan hati, kondisi telapak tangan yang memerah itu juga kerap memberi petunjuk adanya penyakit lain seperti rheumatoid arthritis dan gangguan tiroid. 

3. Tangan gemetar
Tangan gemetar biasanya terjadi jika kita cemas, panik, atau mungkin kelelahan memegang suatu benda yang berat. Itu wajar. Tapi jika gemetarnya itu tanpa sebab alias tak terkontrol, nah...sebaiknya Anda perlu waspada. 

Tangan gemetar tanpa sebab bisa menjadi peringatan awal adanya serangan Parkinson. Penyakit ini mempengaruhi sistem syaraf seperti gangguan gerak otot-otot tubuh. Jika kondisi ini terjadi pada Anda atau keluarga, maka sebaiknya segera berkonsultasilah dengan dokter. 

4. Kuku berubah warna
Kuku yang sehat berwarna kemerahan atau bisa dikatakan rona merah muda. Tapi jika keadaan kuku Anda berwarna semburat kuning kehijauan, waspadalah. Ada kemungkinan terjadi infeksi jamur. Tapi dalam kasus khusus, perubahan warna pada kuku seperti ini bisa menjadi petunjuk awal adanya penyakit paru-paru. 

Bila ada noda kecoklatan pada warna kuku Anda, seperti tahi lalat di bagian garis kuku, itu dapat menjadi petunjuk adanya penyakit kulit psoriasis. 

5. Kuku berbentuk seperti sendok
Bentuk kuku normal biasanya memang agak melengkung dengan posisi ujungnya mengarah ke bawah. Tapi jika kondisi kuku Anda tampak bertumbuhnya berlawanan atau berbentuk cekung seperti sendok, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Ada kemungkinan Anda terindikasi terkena gejala kurang zat besi atau anemia. 

Kondisi kuku yang rapuh dan berbentuk tak wajar juga bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung. 

6. Ada benjolan di bagian jari jemari
Jika Anda mengalami adanya benjolan di bagian dekat perlekatan kuku di jari, itu bisa menjadi tanda awal osteoarthritis. Benjolan tersebut mungkin muncul akibat hilangnya ruang sendi hingga mengakibatkan sendi membengkak seolah seperti membentuk tulang baru. Biasanya, wanita lebih rentan mengalami gangguan keausan sendi ini.

7. Kulit tangan kering
Kondisi kulit tangan kering acapkali memberikan petunjuk awal adanya gangguan tiroid yang memicu hilangnya kelembaban kulit. Kulit kering pun dapat pula sebagai penanda adanya alergi atau gangguan sensitivitas kulit akibat pemakaian produk kosmetik yang cocok.

Thursday, May 2, 2013

Mengapa MENGUAP BISA MENULAR ?



Anda pernah memperhatikan orang menguap saat berada di kerumunan?Biasanya, setelah ada yang menguap dalam satu kerumunan, tidak lama kemudian akan ada orang lain lagi yang menguap, dan ada lagi yang menguap, dan seterusnya.

Hal ini membuat banyak orang percaya bahwa menguap bisa menular secara berantai. Mengapa?

Penyebab persis menguap, hingga saat ini memang belum ditemukan.Pendapat yang banyak dikemukakan menyebutkan bahwa menguap terjadi karena oksigen dalam tubuh minim. Biasanya, orang bisa menguap saat kondisi tubuh lelah, malas, bosan, atau mengantuk. Kebiasaan menguap ini tidak mengenal usia. Mulai dari bayi yang baru lahir hingga orang lanjut usia, punya kebiasaan menguap.

Mengapa menular? Sejauh ini memang belum ditemukan jawaban yang pasti atas pertanyaan tersebut. Penelitian terbaru dijalankan oleh Guru Besar Psikologi di Universitas Dexter, Philadelphia, Amerika Serikat (AS),Steven Platek. Laporan dari studi tersebut antara lain dipublikasikan oleh jurnal Cognitive Brain Research. Secara singkat, majalah Shine,mengutip laporan tersebut.

Dalam laporan hasil studinya, Platek mengungkapkan bahwa menguap bisa menular karena adanya efek empatetik dalam aktivitas tersebut. Proses menguap itu, kata dia, mirip dengan tertawa. Saat ada satu orang tertawa dalam sebuah kerumunan, biasanya bakal muncul orang lain yang memberikan respons dengan tertawa juga.

"Efek penularan menguap bukan hanya muncul dari penglihatan, tapi juga bisa muncul dari pendengaran, membaca artikel tentang menguap, atau bahkan berpikir tentang menguap," tutur Platek. Dia dan tim penelitinya meyakini bahwa penularan menguap merupakan cara primitif pemodelan perasaan manusia yang terkait dengan manusia yang lain.

Tidak hanya menular, ternyata beberapa studi juga mengungkapkan bahwa aktivitas menguap itu tidak bisa dikontrol. Buktinya, saat seseorang punya keinginan menguap, maka dia akan sangat sulit untuk menahannya.Biasanya, dia hanya bisa menahan agar mulutnya tidak terbuka saat menguap.

tambahan info: menguap Tidak cuma menular antar manusia, tapi menguap juga menular antar simpanse.Sebuah studi menunjukkan seekor simpanse menguap setelah menonton video yang memperlihatkan simpanse lainnya menguap. hewan lain seperti singa pun juga demikian.

Kenapa Balita Tak Boleh Akrab dengan "Gadget"?


Fakta menunjukkan, penggunaan gadget secara berlebihan di usia dini berpotensi menimbulkan efek buruk. Belum lama ini, seorang anak perempuan di Inggris, berusia 4 tahun, harus menerima perawatan dari psikiater karena mengalami kecanduan Ipad. Bocah yang tidak disebutkan namanya ini pun tercatat menjadi pencandu Ipad termuda di Inggris.

Dari sudut pandang ilmu kesehatan jiwa, penggunaan gadget di usia yang terlalu dini tidak disarankan. Balita bahkan "dilarang" memiliki keterikatan dengan peralatan elektronik atau sejenisnya karena dikhawatirkan dapat memberi efek mengganggu proses tumbuh kembangnya secara alami.

"Harusnya, pada usia balita, anak terikat dengan orangtua atau lingkungan sekeliling sehingga bisa belajar. Keterikatan pada gadget akan membatasi kesempatan anak untuk belajar dan berkembang," kata dr Tjhin Wiguna, SpKJ(K), dari Divisi Psikiater Anak dan Remaja Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (FKUI/RSCM) Jakarta. 

Terbatasnya kesempatan untuk belajar, kata Tjhin, disebabkan gadget hanya berkomunikasi satu arah, yakni merespons kemauan pengguna dalam hal ini balita.

Akibatnya, anak tidak dapat belajar secara alami bagaimana berkomunikasi dan sosialisasi. Anak juga tidak mampu mengenali dan berbagi aneka emosi, misal simpati, sedih, atau senang. Alhasil, menurut Tjhin, anak kurang mampu merespons apa yang terjadi di sekelilingnya, baik secara emosi maupun verbal. Terbatasnya respons anak akan mengganggu perkembangan kemampuannya untuk bergaul dan beradaptasi.

Kerugian lain dari keterikatan dengan gadget adalah gangguan pada kemampuan motorik kasar dan halus. Hal ini disebabkan anak hanya melakukan sedikit gerakan untuk menggunakan gadget. "Paling hanya duduk atau menggerakkan jari. Padahal, kalau bermain di alam bebas, semua anggota badan bergerak, termasuk koordinasi mata tangan untuk kematangan motorik halus," kata Tjhin.

Karena itulah, Tjhin menyarankan sedapat mungkin menghindari keterikatan balita dengan gadget. Namun, bila keterikatan sudah terjadi, orangtua diharapkan segera membawa ke psikiater atau psikolog terdekat. 

Menurut Tjhin, pertolongan yang diberikan sedini mungkin membantu mempercepat pemulihan pasien. Penderita gangguan keterikatan gadget pada usia balita lebih mudah ditolong daripada penderita usia dewasa. Hal ini disebabkan cara pandang balita lebih mudah diubah daripada dewasa. "Sehingga balita lebih mudah menerima terapi dibandingkan dewasa," kata Tjhin.

Bentuk terapi yang diterima tiap pasien bisa jadi berbeda. Tjhin menerangkan biasanya pasien akan menerima terapi modifikasi perilaku. Namun, sebelumnya harus diketahui bagaimana pola asuh dan kebiasaan anak.

Selama terapi, perhatian anak akan dialihkan pada hal selain gadget. "Kita akan memperkenalkannya pada hal baru, atau sesuatu yang menarik perhatian di luar gadget. Karena itu harus diketahui bagaimana latar belakangnya," kata Tjhin.

Keterikatan bukan ketergantungan

Tjhin menerangkan, kasus anak sering bermain gadget lebih tepat disebut sebagai keterikatan dibanding ketergantungan. "Tumbuh kembang anak dan dewasa berbeda. Untuk anak, lebih tepat disebut terikat karena tidak memenuhi kriteria diagnostik," kata Tjhin.

Kriteria diagnostik ini mencakup lamanya waktu bermain gadget. Balita biasanya tidak memainkan gadget lebih dari 5 jam. Hal ini berbeda pada orang dewasa yang bisa menghabiskan 24 jam dengan gadget-nya.

Walau demikian, keterikatan ini memunculkan efek psikologi yang merugikan. Tjhin mengatakan, anak akan merasa tidak nyaman tanpa gadget dan bisa "uring-uringan" sepanjang hari. Waktu yang dihabiskan juga semakin banyak demi menemukan rasa puas dan nyaman.

"Perlahan meningkat dari 1 jam, menjadi 4 jam, kemudian 5 jam. Hal ini disebut efek toleransi," kata Tjhin.

Timbulnya keterikatan, menurut Tjhin, disebabkan pembiasaan yang terus dilakukan orangtua terhadap anak, terkait penggunaan gadget. Dalam hal ini, orangtua mungkin sering menggunakan gadget dalam kesehariannya, misal mengalihkan perhatian anak ketika menangis.

"Anak itu sebetulnya mudah dikondisikan. Bila yang sering dihadapi gadget, tentu dia lebih terbiasa menghadapi perangkat teknologi tersebut," kata Tjhin.

Tjhin memperingatkan orangtua untuk sedapat mungkin mencegah keterikatan anak dengan gadget. Orangtua perlu berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalkan penggunaan gadget dan mengajak anak bermain. Berbagai stimulasi yang diberikan saat bermain akan berguna untuk tumbuh kembangnya.

Kim Peek si manusia super jenius yang pernah ada


Kim Peek lahir pada tahun 1951 dengan ukuran kepala 3 kali lebih besar dari ukuran kepala bayi normal. Selain itu, Kim juga divonis menderita encephalocele, semacam luka di belakang kepala yang menunjukkan beberapa otaknya menonjol. Namun siapa sangka dibalik kekurangannya tersebut Kim Peek menyimpan kemampuan yang sungguh sangat luar biasa. Ya ...Kim Peek memiliki otak yang super jenius.

Kim Peek adalah sesosok manusia yang sangat jenius, bisa dikatakan juga bahwa dia merupakan manusia paling jenius di dunia pada masanya. Menurut ayahnya, Kim Peek memiliki daya ingat yang luar biasa sejak usia 16 - 20 bulan. Dia sangat suka membaca buku dan dengan sangat cepat dapat menyerap inti sari dari buku yang dibacanya tersebut kemudia ia menata buku tersebut secara terbalik untuk menunjukan bahwa ia telah selesai membacanya.

Saat dia membaca sebuah buku, nyaris dapat mengingat semua isi yang ada dalam buku tersebut. Dia dapat mengingat secara permanen informasi yang dia baca, baik itu tentang sejarah, sastra, geografi, angka, olahraga dan musik. Tehnik membaca yang ia gunakan pun sangat luar biasa, dia menggunakan mata kiri untuk membaca halaman buku sebelah kiri dan menggunakan mata kanan untuk membaca halaman buku sebelah kanan. Dengan kata lain dia dapat membaca dua halaman sekaligus dalam sekali baca dengan waktu sekitar 8 detik per halaman. Dia bahkan dapat mengingat secara sempurna isi dari 12.000 buku yang pernah ia baca. 

Wednesday, May 1, 2013

Penyebab Orang Indonesia Gampang Penyakitan


Masih banyaknya masyarakat Indonesia yang kurang mengonsumsi sayuran hijau membuat rentan terkena penyakit. Orang bilang gampang penyakitan. Ambil contoh penyakit yang masih tinggi kasusnya di Indonesia seperti jantung, anemia, tuberkulosis, atau kanker. 

Ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK bahkan menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia masih menganggap buah dan sayur hanya sebagai pelengkap dan seringkali tidak dikonsumsi secara teratur.

Jadi, tak heran bila ragam penyakit seperti tekanan darah tinggi, kencing manis, hiperkolesterolemia, jantung, stroke, kanker bisa terjadi karena kita jarang makan sayur.

"Semua ini diakibatkan oleh kurangnya konsumsi sayuran hijau di Indonesia," kata Guru Besar bidang Kesehatan Global dari Universitas Washington dan Direktur dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) Christopher J.L. Murray, MD, Ph.D di Jakarta, Rabu (01/5/2013)

EMPAT TIPE MANUSIA HADAPI TEKANAN HIDUP


Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan. Tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian. 

Empat tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup sebagai berikut :

1. Tipe Kayu Rapuh

Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi. Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.

Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan kita sebagai pendamping mereka.

2. Tipe Lempeng Besi

Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut. Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya. 

3. Tipe kapas

Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah kita menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi. 

4. Tipe Bola Pingpong

Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. 

Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya. Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.

“ Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray)
Tipe yang manakah kita????